makalah TQM

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kita menyadari bahwa pendidikan yang berkualitas merupakan instrumen penting bagi pembangunan negara. Dan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dibutuhkan sistem pendidikan yang berkualitas pula. Oleh karena itu, pemerintah mengulurkan dana sebesar 20% dari APBN untuk pendidikan di Indonesia.

Dalam pembentukan system pendidikan yang berkualitas, selain perlunya uang yang cukup diperlukan juga manajemen yang berkualitas pula.

Dewasa ini, perkembangan pemikiran manajemen di sekolah dan perguruan tinggi mengarah pada system manajemen yang disebut TQM (Total Quality Management) atau Manajemen Mutu Terpadu. Tulisan ini mencoba memberi masukan konstruktif bagi pengelola sekolah dan civitas akademika perguruan tinggi dalam menerapkan TQM, yang diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas pengelolaan jurusan yang berdampak pada peningkatan kualitas lulusan yang memiliki daya saing kompetitif dan komparatif.

Di Indonesia yang pendidikannya belum banyak menerapkan strategi TQM (Total Qualty Managemant), kualitas pendidikannya jauh lebih rendah dibanding dengan negara lain. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sekolah – sekolah yang hampir rubuh dan ditinggalkan oleh para muridnya.

Berdasarkan pemikiran di atas, kami menulis makalah ini dengan judul “Implementasi Total Quality Management dan Manfaat Implementasinya Terhadap Peningkatan Kualitas Pendidikan di Indonesia”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka masalah dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Faktor – faktor apa yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia rendah ?

2. Indikator – indikator apa yang menerangkan bahwa pendidikan di Indonesia rendah ?

3. Bagaimana cara menerapakan TQM (Total Quality Managemant) dalam dunia pendidikan di Indonesia ?

4. Apa manfaat dari penerapan TQM (Total Quality Management) dalam dunia pendidikan di Indonesia ?

C. Tujuan

Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Mengetahui faktor – faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indinesia rendah.

2. Mengetahui indikator - indikator yang menerangkan bahwa pendidikan di Indonesia rendah.

3. Mengetahui cara penerapan TQM (Total Quality Management) dalam dunia pendidikan di Indonesia rendah.

4. Mengetahui manfaat dari penerapan TQM (Total quality Management) dalam dunia pendidikan di Indonesia.

D. Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari hasil penulisan makalah ini adalah :

1. Memberikan informasi tentang manfaat dari penerapan TQM (Total Quality Management).

2. Memberikan informasi mengenai kualitas pendidikan di Indonesia.

3. Sebagai bahan referensi bagi pambaca dan penulis selanjutnya dalam membahas masalah ini di kemudian hari.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Kualitas

Meskipun tidak ada definisi mengenai kualitas yang diterima secara universal dari definisi – definisi yang ada terdapat beberapa kesamaan, yaitu dalam elemen –elemen sebagai berikut :

1. Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

  1. Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan.
  2. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah ( misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang.

Dengan berdasarkan elemen – elemen tersebut, Goetsch dan Davis ( 1994, p. 4 ) membuat definisi mengenai kualitas yang lebih luas cakupannya. Definisi tersebut adalah:

Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau lebih harapan

B. Definisi Total Quality Management ( TQM )

TQM merupakan system manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi. ( Santosa, 1992 )

Pengertian TQM dapat dibedakan dalam 2 ( dua ) aspek. Aspek pertama mnguraikan apa TQM itu dan aspek kedua membahas bagaimana mencapainya.

Total Quality Management merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus – menerus atas jasa, manusia, proses, dan lingkungannya.

Total quality approach hanya dapat dicapai dengan memperhatikan karakteristik TQM berikut ini :

  1. Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal
  2. Memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas
  3. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
  4. Memiliki komitmen jangka panjang
  5. Membutuhkan kerja sama tim ( teamwork )
  6. Memperbaiki proses secara berkesinambungan
  7. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
  8. Memiliki kesatuann tujuan
  9. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan

C. Latar Belakang Perlunya TQM

Dasar pemikiran perlunya TQM sangatlah sederhana, yakni bahwa cara terbaik agar dapat bersaing dan unggul dalam bersaing dan unggul dalam persaingan global adalah dengan menghasilkan kualitas yang terbaik. Untuk menghasilkan kualitas yang terbaik diperlukan upaya perbaikan berkesinambungan terhadap kemampuan manusia, proses, lingkungan. Cara terbaik agar dapat memperbaiki kemampuan komponen – komponen tersebut secara berkesinambungan adalah dengan menerapkan TQM.

Penerapan TQM dalam suatu perusahaan dapat memberikan beberapa manfaat utama yang pada gilirannya meningkatkan laba serta daya saing perusahaan yang berkaitan.

D. Prinsip dan Unsur Pokok Dalam TQM

TQM merupakan suatu konsep yang berupaya melaksanakan sistem manajemen kualitas kelas dunia. Untuk itu diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai suatu organisasi. Menurut Hensler dan Brunell ( dalam scheuing dan Cristhoper, 1993 ) ada empat prinsip utama dalam TQM, yaitu :

  1. Kepuasan Pelanggan

Dalam TQM, konsep mengenai kaulitas dan pelanggan diperluas. Kualitas tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi – spesifikasi tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh pelanggan.

  1. Respek Terhadap Setiap Orang

Dalam perusahaan yang kualitasnya kelas dunia, setiap karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreativitas tersendiri yang unik. Dengan demikian karyawan menjadi sumber daya yang organisasi yang paling bernilai. Oleh karena itu setiap orang dalam organisasi diperlakukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam tim pengambilan keputusan.

  1. Manajemen Berdasarkan Fakta

Perusahaan kelas dunia berorientasi paa fakta. Maksudnya bahwa setiap keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar pada perasaan ( feeling ). Ada dua konsep pokok berkaitan dengan hal ini. Pertama, prioritasi yakni suatu konsep bahwa perbaikan tidak dapat dilakukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Oleh karena itu dengan menggunakan data maka manajemen dan tim dalam organisasi dapat memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital.

  1. Perbaikan Berkesinambungan

Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses secara sistematis dalam melaksanakan perbaikan berkesinambungan. Konsep yang berlaku disini adalah siklus PDCA ( plan-do-check-act ), yang terdiri dari langkah – langkah perencanaan rencana, pemeriksaan hasil pelaksanaan rencana, dan tindakan korektif terhadap hasil yang diperoleh

Definisi mengenai TQM mencakup dua komponen, yakni apa dan bagaimana menjalankan TQM. Yang membedakan dengan pendekatan – pendekatan lain dalam menjalankan usaha adalah komponen bagaimana tersebut. Komponen ini memiliki 10 unsur utama ( Goetch dan Davis, 1994 ) yang masing – masing akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Fokus Pada Pelanggan

Dalam TQM , baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal merupakan driver. Pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa yang disampaikan kepada mereka, sedangkan pelanggan internal berperan besar dalam menentukan kualitas manusia, proses, dan lingkungan yang berhubungan dengan produk atau jasa.

  1. Obsesi terhadap Kualitas

Dalam organisasi yang menerapkan TQM , penentu akhir kualitas pelanggan internal dan eksternal. Dengan kualitas yang ditetapkan tersebut, organisasi harus terobsesi untuk memulai atau melebihi apa yang ditentukan tersebut. Hal ini berarti bahwa semua karywan pada setiap level berusaha melaksanakan setiap aspek pekerjaannya gberdasarkan perspektif”bagaimana kita dapat melakukannya dengan lebih baik?” bila suatu organisasi terobsesi dengan kualitas,maka berlaku prinsip’good enough is never good enough’.

  1. Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah sangat di perlukan dalam penerapan TQM,terutama untuk mendesain pekerjaan dan dalam proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang didesain tesebut. Dengan demikian data di perlukan dan dipergunakan dalam menyusun patok duga (benchmark), memantau prestasi, dan melaksanakan perbaikan.

4.Komitmen Jangka Panjang

TQM merupakan suatu paradigma baru dalam melaksanakan bisnis. Untuk itu dibutuhkan budaya perusahaan yang baru pula. Oleh karena itu komitmen jangka panjang sangat penting guna mengadakan perubahan agar penerapan TQM dapat berjalan dengan sukses.

  1. KerjaSama Tim ( Teamwork )

Dalam organisasi yang dikelola secara tradisional, seringkali diciptakan persaingan antar departemen yang ada dalam organisasi tersebut agar daya saingannya terdongkrak . Akan tetapi persaingan internal tersebut cenderung hanya menggunakan dan menghabiskan energi yang seharusnya dipusatkan pada upaya perbaikan kualitas, yang pada gilirannya untuk meningkatkan daya saing eksternal.

Sementara itu dalam organisasi yang menerapkan TQM, kerjasama tim, kemitraan dan hubungan dijalin dan dibina, baik antar karyawan perusahaan maupun dengan pemasok, lembaga – lembaga pemerintah, dan masyarakat sekitarnya.

  1. Perbaikan Sistem Secara Berkesinambungan

Setiap produk atau jasa dihasilkan dengan memanfaatkan proses – proses tertentu didalam suatu sistem atau lingkungan. Oleh karena itu system yang ada perlu diperbaiki secara terus menerus agar kualitas yang dihasilkan dapat meningkat.

  1. Pendidikan dan Pelatihan

Dewasa ini masih terdapat perusahaan yang menutup[ mata terhadap pentingnya pendidikan dan pelatihan. Perusahaan – perusahaan seperti itu hanya akan memberikan pelatihan – pelatihan yang sekedarnya kepada karyawannya. Hal ini menyebabkan perusahaan tidak berkembang dan sulit bersaing dengan perusahaan lainnya.

Sedangkan dalam perusahaan yang menerapkan TQM, pendidikan dan pelatihan merupakan faktor yang fundamental. Dalam hal ini berlaku prinsip bahwa belajar merupakan proses yang tidak ada akhirnya dan tidak mengenal batas usia.

  1. Kebebasan yang Terkendali

Dalam TQM keterlibatan dan pemberdayaan karyawan dalam pengambilan keputusandan pemecahan masalah merupakan unsure yang sangat penting. Hal ini dikarenakan unsure tersebut dapat meningkatkan “ rasa memiliki “ dan tanggungjawab karyawan terhadap keputusan yang telah dibuat. Selain itu unsur ini juga dapat memperkaya wawasan dan pandangan dalam suatu keputusan yang diambil, karena pihak yang terlibat lebih banyak.

  1. Kesatuan Tujuan.

Supaya TQM dapat diterapkan dengan baik maka perusahaan harus memiliki kesatuan tujuan. Dengan demikian setiap usaha dapat diarahkan pada tujuan yang sama. Akan tetapi kesatuan tujuan ini tidak berarti bahwa harus selalu ada persetujuan/kesepakatan antara pihak manajemen dan karyawan mengenai upah dan kondisi kerja.

10. Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan Karyawan

Keterlibatan dan pemberdayaan karyawan merupakan hal yang penting dalam penerapan TQM. Usaha untuk melibatkan karyawan membawa 2 manfaat utama. Pertama, hal ini akan meningkatkan kemungkinan dihasilkannya keputusan yang baik, rencana yang lebih baik, atau perbaikan yang lebih efektif karena juga mencakup pandangan dan pemikiran dari pihak-pihak yang langsung berhubungan dengan situasi kerja. Kedua, keterlibatan karyawan juga meningkatkan ‘rasa memiliki” dan tanggung jawab atas keputusan dengan melibatkan orang-orang yang harus melaksanakannya.

Pemberdayaan bukan sekedar berarti melibatkan karyawan tetapi juga melibatkan mereka dengan memberikan pengaruh yang sungguh-sungguh berarti. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menyusun pekerjaan yang memungkinkan pada karyawan untuk mengambil keputusan mengenai perbaikan proses pekerjaanya dalam parameter yang ditetapkan dengan jelas.

E. Faktor – Faktor yang dapat Menyebabkan Kegagalan TQM

TQM merupakan suatu pendekatan suatu pendekatan baru dan menyeluruh yang membutuhkan perubahan total atas paradigama manajemen tradisional, komitmen jangka panjang, kesatuan tujuan, dan pelatihan – pelatihan khusus.

Selain dikarenakan usaha pelaksanaan yang setengah hati dan harapan – harapan yang tidak realitis, ada pula beberapa kesalahan yang secara umum dilakukan pada saat organisasi memulai inisiatif perbaikan kualitas. Beberapa kesalahan yang sering dilakukan antar lain :

  1. Delegai dan kepemimpinan yang tidak baik dari manajemen senior.

Inisiatif upaya perbaikan kualitas secara berkesinambungan sepatutnya simulai dari pihak manajemen dimana mereka harus terlibat secara langsung dalam pelaksanaannya. Bila tanggungjawab itu didelegasikan kepada pihak laik maka peluang terjasinya kegagalan sangat besar.

  1. Team mania

Untuk menunjang dan menumbuhkan kerja sama dalam tim, paling tidak ada dua dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, baik penyelia maupun karyawan harus memiliki pemahaman yang baik terhadap perannya masing – masing. Kedua. Organisasi harus melakukan perubahan budaya supaya kerjasama tim `tersebut dapat berhasil. Apabila kedua hal tersebut tidak dilakukan sebelum pembentukan tim, maka hanya akan timbul masalah, bukannya pemecahan masalah.

  1. Proses penyebarluasan

Ada organisasi yang mengembangkan inisiatif kualitas tanpa secara berbarengan mengembangkan rencana untuk menyatukan kedalam seluruh elemen – elemen organisasi. Seharusnya pengembangan inisiatif tersebut melibatkan para manajer, serikat pekerja, pemasok, dan bidang produksi lainnya, karena usaha itu meliputi pemikiran mengenai struktur, penghargaan, pengembangan keterampilan, pendidikan dan kesadaran.

  1. Menggunakan pendekatan yang terbatas dan dogmatis

Ada pula organisasi yang hanya menggunakan pendekatan Deming, pendekatan Juran, atau Pendekatan Crosby dan hanya menerapkan prinsip – prinsip yang ditentukan disitu. Padahal tidak ada satupun pendekatan yang disarankan oleh ketiga pakar tersebut maupun pakar – pakar kualitas lainnya yang merupakan satu pendekatan yang cocok untuk segala situasi..

  1. Harapan yang terlalu berlebihan dan tidak realistis

Bila hanya mengirimkan karyawan untuk mengikuti suatu pelatihan selama beberapa hari, bukan berarti telah membentuk waktu untuk mendidik, mengilhami dan membuat karyawan sadar akan pentingnya kualitas. Selain itu dibutuhkan waktu yang sangat lama pula untuk mengimplementasikan perubahan – perubahan proses baru, bahkan seringkali perubahan proses baru, bahkan seringkali perubahan tersebut memakan waktu yang sangat lama untuk sampai terasa pengaruhnya terhadap peningkatan kualitas dan daya saing perusahaan.

  1. Emprowerment yang bersifat prematur

Banyak perusahaan yang kurang memahami makna dari pemberian emprowerment kepada karyawan. Mereka mengira bahwa bila karyawan telah dilatih dan diberi wewenang baru dalam mengambil suatu tindakan, maka para karyawan tersebut akan dapat menjadi self-directed dan meberikan hasil – hasil positif. Seringkali dalam praktik, karyawan tidak tahu apa yang harus dikerjakan setelah suatu pekerjaan diselesaikan. Oleh karena itu sebenarnya mereka membutuhkan sasaran dan tujuan yang jelas sehingga tidak salah dalam melakukan sesuatu.

F. Dimensi Kualitas

Ada 8 dimensi kualitas yang dikembangkan Garvin dan dapat digunakan sebagai kerangka perencanaan strategis dan analisis terutama untuk produk manufaktur. Dimensi – domensi tersebut adalah:

  1. Kinerja ( performance ) karakteristik operasi pokok dari produk inti.
  2. Ciri – ciri atau keistimewaan tambahan ( features ), yaitu karaktertik sekunder atau pelengkap.
  3. Kehandalan ( raebility ), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai.
  4. Kesesuaian dengan spesifikasi ( conformance to specification ), yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar – standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
  5. Daya tahan ( durability ), berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan.
  6. Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi; penanganan keluhan yang memuaskan.
  7. Estetika, yaitu daya tarik produk terhadap panca indra.
  8. Kualitas yang dipersepsikan ( perceived quality ), yaitu citra dan reputasi produk serta tanggungjawab perusahaan terhadapanya

G. Sumber Kualitas

Ada 5 sumber kualitas yang biasa dijumpai, yaitu :

  1. Program, kebijakan, dan sikap yang melibatkan komitmen dan manajemen puncak.
  2. System informasi yang menekankan ketepatan, baik pada waktu maupun detail.
  3. Desain produk yang menekankan keandalan dan perjanjian ekstensif produk sebelum dilepas ke pasar.
  4. Kebijakan produksi dan tenaga kerja yang menekankan peralatan yang terpelihara dengan baik, pekerja yang terlatih baik, dan penemuan penyimpangan secara tepat.
  5. Manajemen vendor yang menekankan kualitas sebagai sasaran utama.


BAB III

PEMBAHASAN

Berdasarkan dari pengamatan yang dilakukan secara acak (random), dibeberapa daerah di Indonesia melalui media televisi, media cetak, dan berdasarkan pengalaman dari penulis yang merasakan langsung bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia, didapatkan beberapa faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia rendah, di antaranya :

Faktor Teknis :

- Tidak sesuainya model pengajaran yang diterapkan oleh guru atau dosen kepada muridnya.

- Kurangnya perawatan dan pemeliharaan gedung-gedung sekolah yang sudah tua.

- Sarana atau fasilitas yang kurang memadai.

- Sistem kurikulum yang selalu berganti-ganti, namun pelaksanaan di lapangan tidak maksimal.

Faktor Non Teknis :

- Bagi masyarakat tidak mampu, makin tingginya beban hidup akibat perekonomian yang turun , menyebabkan putus sekolah menjadi satu-satunya cara yang ditempuh siswa tidak mampu untuk meringankan beban orang tuanya.

- Membudayanya praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) dibidang pendidikan.

Kualitas pendidikan yang rendah dapat diindikasi dengan melihat betapa banyaknya kasus-kasus yang terjadi, seperti : guru yang melakukan kekerasan, rusaknya gudang-gudang sekolah, dan pendapat dari siswa tentang minimnya fasilitas di sekolah, dll. Selain itu maraknya praktik KKN di bidang pendidikan menyebabkan dana pendidikan ditiap – tiap lembaga pendidikan tidak merata. Sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk melengkapi fasilitas sekolah dan perbaikan sekolah yang sudah direncanakan tidak terealisasi.

Indikasi-indikasi tersebut menyiratkan betapapun rencana-rencana yang dibuat sedemikian bagusnya oleh pemerintah, namun apabila pelaksanaan di lapangan tidak seindah di atas kertas, maka tidak ada artinya rencana tersebut. Seperti halnya dalam manajemen suatu usaha, meskipun rencana-rencana yang dibuat telah disusun baik, namun apabila pengendalian tidak berjalan baik, tentunya banyak rencana yang melenceng, karena tujuan dari pengendalian manajemen adalah untuk mengawasi kegiatan-kegiatan agar sesuai dengan apa yang direncanakan.

Dalam system pendidikan di Indonesia, yang menjadi kelemahan ada pada system pengendalian, seperti yang disebutkan sebelumnya. Kelemahan ini menyebabkan kualitas pendidikan turun, dan untuk mengatasinya diperlukan strategi yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas yang disebut Total Quality Managemant ( TQM ).

Tujuan TQM dibidang pendidikan adalah meningkatkan mutu secara berkelanjutan, terus menerus, dan terpadu.

System manajemen TQM sangat meminimalkan proses birokrasi. System pendidikan di Indonesia yang birokratis akan menghambat potensi perkembangan pendidikan tersebut. Dalam ajaran TQM, lembaga pendidikan harus menempatkan mahasiswa / siswa sebagai “klien” atau dalam istilah perusahaan sebagai stakeholder yang terbesar. Maka, suara para mahasiswa / siswa harus disertakan dalam setiap pengambilan keputusan strategis langkah lembaga pendidikan. Tanpa suasana demokratis manajemen tidak mampu menerapkan TQM, yang terjadi adalah kualitas pendidikan didominasi oleh pihak-pihak tertentu yang seringkali memiliki kepentingan yang bersimpangan dengan hakekat pendidikan.

Penerapan TQM berarti pula adanya kebebasan untuk berpendapat. Kebebasan berpendapat akan menciptakan iklim yang dialogis antara siswa dan guru. Pentransferan ilmu tidak lagi bersifat One Way Comunication, melainkan Two Way Comunication.

Selain kebebasan berpendapat juga harus ada kebebasan informasi. Harus ada informasi yang jelas mengenai arah lembaga pendidikan, baik secara internal organisasi maupun secara nasiaonal. Secara internal, manajemen harus menyediakan informasi seluas-luasnya termasuk dalam hal arah organisasi, program-program, serta kondisi financial. Selain dari pada itu, dalam penerapan TQM, peningkatan sarana dan fasilitas pun sangat penting dalam mendukung tercapainya kualitas yang baik.

Bagi organisasi / lembaga pendidikan, adaptasi Manajemen Mutu Pendidikan ( TQM ) dapat dikatakan sukses, jika menunjukan gejala-gejala sebagai berikut :

1. Tingkat kosistensi lulusan dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas sumber daya manusia terus meningkat.

2. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan complain masyarakat yang dilayani semakin berkurang.

3. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat.

4. Inventarisasi asset berupa fasilitas dan sarana penunjang lainnya dalam organisasi semakin sempurna, terkendali dan tidak berkurang / hilang tanpa diketahui sebab-sebabnya.

5. Kontrol berlangsung efektif, sehingga mampu menghemat pembiayaan, mencegah penyimpangan dalam pemberian pelayanan umum dan pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

6. Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah.

7. Peningkatan keterampilan dan keahlian bekerja terus dilaksanakan, sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai cara bekerja yang paling efektif, efesien dan produktif, sehingga kualitas produk dan pelayanan umum terus meningkat.

Ada beberapa manfaat positif yang diperoleh jika lembaga pendidikan mampu mengimplementasikan TQM secara baik di masa mendatang. Beberapa manfaat yang dimaksudkan, antara lain :

1. Keluhan dari berbagai pihak dapat dieliminasi sekecil mungkin.

2. Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki lebih optimal.

3. Pelaksanaan aktivitas utama lebih efesien dan efektif.

4. Memperoleh pengakuan dari pihak lain ( dalam negeri maupun luar negeri ) terhadap eksistensi lembaga pendidikan.


BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat di ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Faktor-faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia rendah, kebanyakan berupa faktor-faktor tehnis, Sehingga dalam upaya perbaikannya lebih mudah di laksanakan.

2. Indikator yang menerangkan kualitas pendidikan rendah, lebih mengarah kepada minimnya fasilitas di sekolah dan rusaknya bangunan sekolah.

3. Dalam penerapan TQM, harus ada beberapa hal yang mesti di perhatikan :

- Harus minimalkan proses birokrasi

- Kebebasan berpendapat

- Kebebasan informasi

- Peningkatan sarana dan kualitas yang ada di sekolah

4. Manfaat dan penerapan TQM :

- Keluhan dari berbagai pihak dapat dieliminasi sekecil mungkin

- Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki lebih optimal

- Aktivitas lebih efektif dan efisien

- Memperoleh pengakuan dari pihak lain

B. Saran

Sehubungan dengan hasil penulisan, kami menyampaikan beberapa saran-saran sebagai berikut:

1. Diharapkan kepada berbagai lembaga pendidikan pada umumnya, untuk mengimplementasikan Total Quality management, dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia

2. Diharapkan kepada pemerintah menggunakan wewenangnya untuk meminimalisir faktor-faktor teknis yang menyebabkan kualitas pendidikan turun.

3. Diharapkan bagi penulis lain agar dapat melengkapi, menyempurnakan dalam penulisan makalah ini.


0 komentar:

Poskan Komentar

Your Ad Here